Selasa, 05 Februari 2013

TIPS HIDUP SEHAT


TIPS HIDUP SEHAT

Amsal 1722 ¶  Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.

Nggak enak rasanya kalau tubuh jasmani kita sakit.  Badan terasa lesu, lemas dan remuk. Ditambah lagi air liur terasa pahit dan nggak enak untuk menelan. Itulah penyakit, bisa menyerang siapa saja, dimana saja dan dapat ditularkan.  Kalau mengalami sakit penyakit seperti ini, mau tidak mau kita harus beristirahat, minum obat dan banyak makan makanan yang bergizi sehingga tubuh bisa pulih kembali.

Bagaimana dengan rohani kita?  Bisa juga menjadi sakit. Sakit rohani bisa mengakibatkan kehidupan menjadi tidak baik, gelisah, cemas, tidur tak nyenyak, makan tak enak. Ketika virus kebencian menyerang hati, maka rasa gelisah akan menghantui jiwa sehingga berpikir sedemikian rupa untuk  melakukan yang tidak baik dan semakin lama dipendam akan menimbulkan kanker dendam yang siap untuk dilampiaskan.  Apa yang harus dilakukan bila kondisi rohani sudah seperti ini?

Tips untuk kita hari ini agar kembali bugar yaitu yang pertama ialah hendaknya kita tetap bersukacita dan bergembira selalu karena hati yang gembira adalah obat yang manjur. Yang kedua yaitu  agar kita selalu mengkonsumsi makanan bergizi berupa firman Tuhan yang dapat membuat kita menjadi kuat dan dapat bertumbuh dengan baik. Dan yang terakhir, tetaplah miliki gaya hidup sehat  dengan selalu mengucap syukur senantiasa, tetap berdoa, jangan kuatir terhadap apapun juga. Jagalah kesehatan rohani kita dengan selalu mengingat kasih karunia Tuhan yang begitu besar di dalam hidup kita. Jagalah jangan sampai kita jauh dari kasih karunia Tuhan itu sehingga tidak timbul kembali kepahitan yang dapat menular kepada orang lain (Ibrani 12:15). Kasih karunia Tuhan menyertai kita semua. Amin (06022013)  

MUJIZAT MASIH TERPAMPANG NYATA


MUJIZAT MASIH TERPAMPANG NYATA

Matius 8:13  Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Ketika membaca firman Tuhan, kita dapat melihat beberapa kejadian yang menurut logika berpikir kita tidak masuk akal untuk saat ini. Kita membaca tentang Yesus yang mencelikkan mata yang buta, membangkitkan orang yang telah mati 4 hari, orang lumpuh berjalan, badai dan topan diredakan, yang kerasukan setan dibebaskan dan lain sebagainya. Yesus melakukan semuanya itu hanya dengan sepatah kata, tidak bertele-tele dan tidak menguras tenaga seperti orang yang berperang. “Masak sih hal seperti itu masih bisa terjadi sekarang?” itu mungkin yang selalu ada dalam benak kita.
  
Kita tidak bisa menyangkal adanya keraguan tentang pekerjaan  Yesus  yang diceritakan oleh Alkitab. Untuk itulah kita perlu meminta pertolongan Roh Kudus agar Dia memberikan pengertian yang bisa membuat keyakinan yang mendalam tentang perbuatan ajaib yang pernah dilakukan oleh Yesus selama hidup di dunia ini seperti yang diceritakan alkitab. Pikiran kita terbatas untuk menyakini hal ini, tetapi Roh Kudus yang adalah Tuhan sendiri yang tidak terbatas yang dapat menyakinkannya kepada kita.

Yesus Kristus tetap sama baik dahulu maupun sekarang dan sampai selama-lamanya (Ibrani 13:8). Kalau dulu Yesus Kristus melakukan perkara yang ajaib, sekarang juga dan sampai selama-lamanya mujizat itu masih terpampang nyata di hadapan kita asal kita percaya. Iman yang sebesar biji sesawi sudah cukup untuk membuktikannya. Namun perkaranya, sampai saat ini iman kita belum ada walau sebesar biji sesawi pun. Itu sebabnya kita menjadi ragu akan hal  ini. Sekarang bagaimana? Mari kita minta Roh Kudus untuk menyatakan hal tersebut kepada kita dan rasakan bahwa sesungguhnya mujizat itu masih terpampang nyata di hadapan kita. Mujizat demi mujizat akan kita alami. Kasih karunia Tuhan menyertai kita semua. Amin (05022013)  

Senin, 04 Februari 2013

PERCAYAKAN HIDUP PADA YESUS


PERCAYAKAN HIDUP PADA YESUS

Yakobus 2:17  Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

Seringkali kita mengatakan bahwa Yesus lebih besar dari masalahku. Kita percaya akan hal itu dan kita mengaminkannya. Puji Tuhan. Tapi apakah kita mempercayakan setiap permasalahan kita kepadaNya? Ketika ada masalah, yang keluar dari mulut bibir kita bukanlah menaikkan permohonan doa untuk meminta kekuatan. Yang kita lakukan malah sebaliknya yaitu mencari pembenaran diri dan juga mencari jalan keluar menurut ukuran kemampuan kita. Apakah ini yang disebut mempercayakan diri kepada Tuhan?

Iblis juga percaya kepada Tuhan dan dia gemetar kepadaNya (Yakobus 2:19). Tapi Iblis tidak pernah menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Iblis selalu mencari cara untuk menyaingi Tuhan dan kalau bisa juga menguasai ciptaan Tuhan yaitu manusia.  Disinilah letak permasalahannya yaitu bahwa kita berbuat seperti Iblis yang hanya percaya kepada kekuatan Tuhan tapi tidak mempercayakan diri kepadaNya.  Itulah sebabnya, Iblis tidak begitu takut kepada manusia yang percaya kepada Tuhan, yang rajin ke gereja, yang rajin pelayanan, dan lain sebagainya tetapi tidak mempercayakan sepenuhnya dirinya kepada Tuhan.

Kita harus percaya kepada Tuhan dan sekaligus mempercayakan hidup kita kepadaNya. Semua kepercayaan kita kepadaNya akan sia-sia kalau kita tidak mempercayakan hidup kita kepadaNya. Kalau kita percaya bahwa Yesus mampu melakukan mujizat, berarti kita juga mempercayakan muzijat itu kepadaNya. Kalau kita percaya bahwa Yesus lebih besar dari masalah yang dihadapi, berarti kita juga mempercayakan jalan keluar atas masalah itu kepadaNya. Dengan kata lain, iman harus diikuti dengan perbuatan, itu kata Yakobus. Jadi jangan pernah  mengatakan percaya kepada Yesus tapi tidak mempercayakan diri kepadaNya. Terpujilah nama Tuhan. Amin. (04022013)

Kamis, 31 Januari 2013

BUKA WAWASAN


BUKA WAWASAN

Lukas 10:29  Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"

Pola pikir seseorang seringkali sempit dan tidak terbuka dengan dunia lain. “Orang itu bukan dari suku kami”, “Dia bukan Kristen”, “Dia tidak seiman”, “Dia bukan dari gereja kami”, dan lain sebagainya, itulah yang sering kita dengar dari orang berpikiran sempit.  Pemikiran sempit seringkali membuat orang terkotak-kotak dan tidak mau bergaul dengan orang lain.Orang-orang seperti ini seringkali telah didoktrin sejak kecil untuk memiliki pemahaman sempit mengenai agamanya, sehingga agamanyalah yang harus dipaksakan kepada orang lain untuk dipercayai. Mereka juga didoktrin untuk memiliki pemahaman yang sempit mengenai sukunya sehingga merasa sukunya lah yang paling unggul diantara suku-suku lainnya.

Inilah yang terjadi kepada bangsa Israel yang pada masa lalu memiliki ajaran yang diterima sejak kecil bahwa sesama manusia adalah orang Israel. Itu sebabnya untuk membenarkan dirinya yang memiliki pemikiran sempit tersebut mereka bertanya kepada Yesus : “Siapakah sesama manusia?”.
Mereka menyangka akan mendapatkan jawaban bahwa sesama manusia adalah dalam pemikiran mereka sendiri yaitu bangsa Israel. Ternyata sesama manusia lebih luas daripada itu yaitu orang yang menunjukkan belas kasihan kepada orang lain. (Lukas 10:37)

Kita harus membuka wawasan kita seluas-luasnya. Memiliki hati yang berbelaskasihan akan memungkinkan kita untuk menghargai orang lain, mengasihi  dan bertindak menjadi sesama bagi orang lain tanpa terkecuali. Tidak melihat agama, suku, dan golongan. Tidak membuat perbedaan yang menjadikan kita menjadi sentimen kepada kelompok lainnya. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. (Kol 3:14). Inilah yang bisa membuat kita bisa hidup dalam kerukunan, saling menghargai, saling menopang, saling mendukung dan memiliki solidaritas yang tinggi terhadap orang lain.  Kita tidak lagi membenci agama orang lain, tidak menghujat kepercayaan orang lain, tidak menyepelekan kelompok lainnya dan lain sebagainya yang akan berdampak kepada terciptanya sebuah kerukunan dan damai sejahtera.  Bukalah wawasan berpikir kita seperti yang telah diajarkan Tuhan Yesus mengenai orang Samaria yang baik hati ini. Kasih karunia Tuhan menyertai kita semua. Amin. (31012013)

Selasa, 29 Januari 2013

JANGAN SERAKAH


JANGAN SERAKAH

Ams 28:25 Orang yang loba, menimbulkan pertengkaran, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, diberi kelimpahan.

“Ini punyaku, itu milikku, dan semuanya adalah hakku.” Kalau bisa semua yang ada adalah kepunyaan kita. Itu adalah salah satu sifat orang yang tamak, serakah dan loba.  Di dalam benaknya selalu timbul hasrat ingin memiliki yang bukan miliknya. Tidak senang orang lain senang dan tidak suka melihat orang lain menjadi kaya.Kalau bisa dirinyalah yang empunya segala-galanya. Mungkinkah? Inilah yang tidak disadari oleh orang yang tamak, serakah dan loba, karena tidak mungkin dia bisa memiliki semuanya.

Kita harus memahami bahwa semua kekayaan, jabatan dan harta yang dimiliki adalah semua bersumber dari Tuhan. Salomo memahami betul hal ini sehingga dia pernah mengatakan di dalam Amsal 10:22, bahwa berkat Tuhan-lah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya. Walaupun kita berusaha dengan sekuat tenaga, membanting tulang siang dan malam, apalagi kalau sampai melakukan tindakan yang tidak berkenan kepada Tuhan, maka apabila Tuhan belum mau melimpahi kita berkat, semuanya akan sia-sia.

Itu sebabnya Salomo menekankan kepada kita agar percaya kepada Tuhan yang empunya berkat. Siapapun kita, apapun latarbelakang kita, kalau kita percaya kepadaNya, maka semua yang dilakukan akan menjadi berkat yang melimpah. Kita harus percaya bahwa berkat dan rejeki tidak akan lari kemana. Karena itu jangan pernah berusaha memiliki sesuatu yang bukan miliknya karena hal itu dapat menimbulkan pertengkaran. Kita harus yakin bahwa kalau Tuhan sudah berkehendak kita memiliki sebuah jabatan, maka apapun usaha orang lain untuk menjatuhkan kita, itu tidak akan dapat terlaksana. Kalau Tuhan sudah berkehendak kita memiliki pelanggan yang banyak dan usaha maju, maka bagaimanapun usaha orang untuk menipu dan menjatuhkan kita, tidak akan berhasil. Kalau Tuhan sudah membuka pintu berkatNya kepada kita, tidak ada satupun yang dapat menutupnya kembali (Wahyu 3:8) sehingga kita berkelimpahan. Kalau Tuhan sudah mengangkat kita, tak satupun yang dapat merendahkan kita kembali. Karena itu, jangan pernah menjadi serakah akan harta, jabatan dan kekayaan. Semua sudah ada bagiannya. Kasih karunia Tuhan menyertai kita semua. Amin. (30012013)