Selasa, 19 Maret 2013

KUASA TUHAN


KUASA TUHAN

Markus 5:13  Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.

Yesus adalah Tuhan yang berkuasa atas segala mahluk termasuk terhadap Iblis dan setan-setan. Dia begitu berwibawa dan tampak penuh kuasa sehingga semua mahluk takluk kepadaNya. Hanya dengan sepatah kata kuasa Iblis yang membuat manusia tertimpa sakit penyakit dapat dengan mudah  dihancurkan dan orang tersebut menjadi sembuh (Matius 8:16). Tidak ada yang dapat menandingi Dia. Yesus penuh kasih dan Dia bersedia menolong semua orang, baik yang muda maupun yang tua, baik yang kaya maupun yang miskin dan lain sebagainya asal orang itu mau datang dan percaya kepadaNya.

Iblis tidak senang melihat manusia memperoleh keselamatan dan dia tidak mau kuasa Tuhan menjadi milik kita. Itu sebabnya Iblis berusaha untuk tetap mengikat manusia dan bermanifestasi dengan cara menunjukkan kuasanya kepada manusia seakan-akan dialah yang paling berkuasa di muka bumi ini. Banyak orang menjadi percaya kepada kuasa Iblis karena kelihatan begitu gampang untuk memperolehnya. Semua tertipu, semua terpesona, semua takjub dan mengira bahwa Iblis lah yang paling berkuasa. Kita semua menjadi takut ketika melihat seseorang kesurupan roh jahat dan tidak bisa berbuat apa-apa karena lupa bahwa sesungguhnya Roh TUhan itu ada di dalam diri kita dan kuasa Tuhan itu sudah menjadi milik kita yang sebenarnya dapat dipakai untuk melawan si Jahat.

Sebagai umat Tuhan, Dia sudah memberikan kuasa kepada kita (Kisah 1:8). Orang yang telah diberikan kuasa itu akan dapat mengusir setan-setan demi nama Yesus,  tidak akan mendapat celaka sekalipun minum racun maut; akan dapat menyembuhkan orang sakit dengan penumpangan tangan di dalam nama Yesus dan lain sebagainya. (Markus 16:17-18). Murid-murid Yesus sudah membuktikannya, termasuk Paulus sudah mengalaminya (Kisah 28:4-6). Kalau kita sebagai murid Yesus maka sesungguhnya Yesus ada di dalam kita dan kita di dalam Dia, maka firman Tuhan mengatakan : Mintalah apa saja yang dikehendaki dan kita akan menerimanya (Yoh.15:7). Dalam hal ini, ketika kuasa Iblis berusaha mengikat seseorang, maka kita sebagai murid Yesus tidak perlu takut karena ada kuasa TUhan di dalam diri kita yang dapat dipakai untuk mengusirnya. Dengan penuh kenyakinan iman, kita meminta di dalam nama Yesus Kristus sehingga kuasa Iblis ditaklukkan, wibawa Tuhan diperlihatkan dan sama seperti orang yang kerasukan setan yang diceritakan pada perikope ini dibebaskan, demikian juga dengan orang yang kita doakan akan dibebaskan di dalam nama Yesus. Terpujilah nama Tuhan. Amin (19032013).

Kamis, 14 Maret 2013

HAL MEMINTA


HAL MEMINTA

Matius 7:7 ¶  "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Firman Tuhan kali ini mengajarkan kepada kita sebuah janji  Tuhan kepada umatNya yaitu  apabila meminta, maka akan diberikan. Sebuah pernyataan yang tegas dari Tuhan kepada para umatNya. Tapi apakah memang harus demikian kita menerima janji Tuhan, yaitu menerima sesuai yang kita minta? Apakah kalau kita meminta kepada TUhan sebuah mujizat lantas diberikan dan orang yang didoakan sembuh? Kalau ada seseorang yang sekarat dan butuh pertolongan lantas didoakan tapi ternyata tidak sembuh bagaimana? Apakah firman Tuhan ini salah? Tidak juga.

Ada begitu banyak diantara umat Tuhan yang mengalami permintaannya tidak diberikan oleh Tuhan. Meminta kesembuhan tapi yang didapat kematian. Meminta naik karir namun yang didapat kehancuran. Meminta usaha berhasil namun yang didapat justru kebangkrutan, dan lain sebagainya. Apa yang salah?  Hal ini sedikit banyak membuat umat Tuhan menjadi mundur dan tidak lagi percaya kepada Kristus. Hal ini disebabkan karena kita terlalu terbuai dan terfokus hanya kepada ayat firman yang satu ini karena menyenangkan hati kita. Kita tidak siap untuk menerima ayat firman yang lainnya yang membutuhkan ketaatan kita.

Inilah yang harus kita pahami bersama agar kita jangan terpaku hanya pada satu ayat firman Tuhan ini. Diperlukan ayat-ayat firman Tuhan lain yang akan membuat kita semakin mengerti bahwa tidak semua permintaan kita dipenuhi sesuai dengan keinginan kita pada saat itu juga. Ada saatnya permintaan kita tidak diberikan karena menurut Tuhan hal itu tidak akan membuat kita lebih baik, tidak membuat kita lebih percaya dan tidak membuat kita lebih taat. Seperti Ayub yang mungkin tidak pernah membayangkan dan tidak pernah mendoakan dirinya untuk mengalami kehancuran, tetapi yang dialaminya sebaliknya yaitu  kehancuran usaha, kehilangan anak-anak, dan lain sebagainya. Dia mengalami semuanya itu dan dia mau menerima sesuatu yang tidak baik dari Tuhan dan pada akhirnya dia dapat mengerti bahwa tidak ada rencana Tuhan yang gagal (Ayub 42:2).  Nah, firman Tuhan yang seperti inilah yang akan membuat kita lebih taat kepada Tuhan dan mengetahui bahwa sebenarnya tidak ada rencana Tuhan yang gagal dan tidak ada permintaan kita yang tidak dipenuhi. Hanya waktu saja yang mungkin membuat kita berpikiran demikian. Karena itu kalau permintaan kita tidak dipenuhi, jangan langsung mengatakan bahwa firman Tuhan salah, tetapi mari kita lihat sisi lainya yang akan membuat kita semakin dewasa di dalam mengiring TUhan. Terpujilah nama Tuhan. Amin. (15032013)

Selasa, 12 Maret 2013

MENGHADAPI FITNAHAN


MENGHADAPI FITNAHAN

Matius 5:11  Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Bagaimanakah rasanya bila kita kena fitnah seseorang? Mungkin ada rasa benci, geram, ingin membalas atau bahkan marah kepada si Pembuat fitnah. Orang yang kena fitnah, sedikit banyak akan merasa tergoncang dan malu. Bagaimana tidak, tidak ada berbuat apa-apa tapi dituduh melakukannya. Dituduh berselingkuh, dituduh korupsi, dituduh mencuri dan lain sebagainya. Kita diserang oleh seseorang dengan menyebarkan berbagai cerita bohong tentang diri kita, diserang dengan kata-kata penuh kebencian, memerangi kita dengan tanpa alasan dan membalas kebaikan kita dengan kejahatan. Kita seringkali salah dalam melakukan tindakan terhadap apa yang kita terima.

 Difitnah memang tidak enak. Serasa begitu banyak orang yang menjadi musuh dan berupaya untuk menjatuhkan kita. Mau membalas kita tidak mampu. Mau berdiam diri membuat semuanya seakan-akan menjadi benar. Kita menjadi tidak nyaman untuk tampil di depan umum.  Kita merasa orang-orang di sekitar kita mencurigai setiap tindakan yang diambil. Rasul Paulus menggambarkan dirinya seperti sampah yang tidak berguna ketika menerima fitnahan (1Kor 4:13). Tetapi dalam segala hal Paulus mengatakan bahwa bilamana mereka difitnah mereka tetap menjawab dengan ramah.

Firman Tuhan mengatakan adalah berbahagia bila kita mengalami berbagai percobaan termasuk apabila kepada kita difitnahkan segala yang jahat. Kata berbahagia didalam terjemahan lainnya adalah diberkati. Ini artinya orang yang difitnah sebenarnya sedang menerima sebuah berkat jasmani dan rohani yang tidak pernah dipikirkannya dari semula. Mungkin pada saat seseorang menerima fitnahan yang ada dalam pikirannya adalah sakit hati, kebencian, ingin membalas dan lain sebagainya. Hal tersebut adalah manusiawi. Tetapi dibalik fitnahan tersebut, Tuhan sebenarnya sedang merenda sebuah kehidupan yang lebih baik bagi kita. Dibalik sebuah fitnahan, Tuhan sedang menaikkan taraf kehidupan kita ke posisi yang lebih tinggi. Dan di balik sebuah fitnahan, Tuhan sedang berkarya atas kehidupan kita karena Dia turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang dikasihiNya (Roma 8:28). Nah, rencana Tuhan inilah yang harus menjadi fokus perhatian kita sehingga ketika kita difitnah kita dapat berkata : “Haleluyah, terpujilah nama Tuhan.” Inilah menjadi kekuatan kita bersama untuk menghadapi hari depan yang penuh dengan harapan. Terpujilah nama Tuhan. Amin (13032013).

Rabu, 06 Maret 2013

KITA PIKIR KITA PINTAR


KITA  PIKIR KITA PINTAR

Kej 16:2  Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai.

Ada satu lelucon yang mungkin pernah kita dengar tentang orang botak. Kalau botak di kepala bagian depan, maka dikatakan orang itu adalah seorang pemikir. Kalau botak di kepala bagian belakang dikatakan dia seorang yang pintar. Nah, kalau orang botak di tengah dikatakan: “Dia pikir dia pintar”. Mungkin kita ketawa mendengar lelucon ini karena lucu. Ya silahkan ketawa sepuasnya karena memang itu hak seseorang.

Namun ada satu hal yang mungkin bisa kita renungkan mengenai orang botak di tengah kepalanya. Kita seringkali bertingkah laku seperti orang yang botak di tengah kepala. Kita pikir kita pintar. Kita pikir kita mampu, kita pikir jalan keluar yang dimaksud adalah seperti yang kita pikir. Dan inilah yang terjadi pada diri Sarai dan juga mungkin kita pernah mengalaminya. Sarai berpikir bahwa jalan keluar dari permasalahannya adalah memberikan hambanya kepada Abram karena pikirnya dia mandul dan tak mungkin lagi melahirkan seorang anak di masa tuanya.  Sarai pikir dia adalah pemikir, ternyata bukan karena Tuhan sebenarnya sudah memikirkannya dari semula.

Inilah kesalahan yang seringkali dilakukan banyak orang. Tidak sabar dan tidak mau mengikuti rencana Tuhan. Kita pikir langkah yang kita ambil sudah benar tetapi sebenarnya kita menuju maut (Amsal 14:12). Kita pikir keputusan yang diambil adalah tepat karena sudah berdoa, padahal sebenarnya kita melakukan kehendak kita sendiri dengan diiringi doa. Artinya, kita melegalisasi atau membenarkan keputusan yang kita ambil dengan doa. “Kan sudah berdoa”, itulah yang kita lontarkan sehingga kelihatan rohani. Bukan kehendak Tuhan yang jadi, tapi kehendak kitalah yang jadi. Itu sebabnya orang yang tidak mengandalkan Tuhan akan berkata : “Pikirkan sesuatu dan lakukan usaha untuk meraihnya maka hal itu akan menjadi nyata.” Itu sebabnya seringkali kita jatuh kepada berbagai pencobaan karena keinginan kita sendiri yang harus dipenuhi seperti yang dikatakan oleh Yakobus 1:14.  Sama seperti Sarai yang mendahului kehendak Tuhan dan tidak sabar menanti pemenuhan janji TUhan kepadanya sehingga kita lihat sampai sekarang keturunannya dan keturun hambanya selalu bertikai. Jangan sampai kita menjadi orang botak di tengah kepala dan merasa diri kita mampu. Tapi andalkan Tuhan di dalam setiap langkah kaki kita. Terpujilah nama Tuhan. AMin. (07032013).

Selasa, 05 Maret 2013

MEMBERI DENGAN RELA


MEMBERI DENGAN RELA

2Kor 8:12  Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.

Sejauh manakah kita telah memberi kepada orang lain? Apakah dengan rela hati atau karena terpaksa dengan motif-motif tertentu? Kita mengatakan bahwa kita telah menyumbang begitu banyak uang dan barang kepada fakir miskin, para janda dan yatim piatu tapi semua pemberian yang dilakukan tidak dengan rela hati, hanya untuk menarik simpatisan dalam kampaye PILKADA. Atau sebaliknya, kita memberi karena ingin diberi. Dalam banyak hal, kita memaksakan diri untuk memberi padahal kita tidak memiliki hal itu dan semuanya dilakukan hanya karena ingin menyenangkan hati seseorang, atau karena ingin disebut orang baik dan lain sebagainya. Padahal Tuhan mau, kita memberi dari apa yang Tuhan beri kepada kita.   

Ada begitu banyak alasan orang di dalam memberi kepada orang lain. Tetapi pada umumnya alasan yang sangat mendorong orang untuk memberi adalah agar diberi. Memberi untuk diberi perhatian, memberi untuk dipilih di dalam PILKADA, memberi untuk diberi jabatan, memberi untuk diberi imbalan, dan lain sebagainya. Tidak ada kerelaan seseorang di dalam memberi. Semua dilakukan hanya karena ingin menerima penghargaan dari manusia.  Jangan heran, ada begitu banyak orang menjadi kecewa ketika pemberiannya tidak membuahkan hasil dengan seketika. Jangan heran, ada begitu banyak orang menjadi sombong ketika dia dapat memberi. Jangan heran, ada begitu banyak jemaat yang suka menyumbang uang kepada gereja menjadi arogan dan suka mengatur pendeta serta mengatur jalannya organisasi gereja sesuai dengan kehendak hatinya.

Memberi dapat dapat diibaratkan seperti seseorang yang memiliki talenta. Memberi sesuatu karena memang dia dipercayakan sesuatu oleh Tuhan. Dengan kata lain, seseorang memberi karena dia memiliki sesuatu untuk diberi. Memberi berkat kepada orang lain, karena Tuhan memberkati dia. Memberi uang karena memang dia diberi uang oleh TUhan. Tuhan memberi uang secukupnya kepada seorang janda miskin, dan dia kembalikan itu kepada TUhan dengan sepenuh hati sehingga Tuhan memujinya bahwa dia memberi lebih banyak daripada semua orang yang ada. (Lukas 21:3). Memberi bukan karena hitung-hitungan dengan Tuhan seperti yang dilakukan seorang yang memiliki satu talenta (Mat.25:24-25), tapi karena kerelaan hati untuk menjadi berkat bagi orang lain. Itu sebabnya orang yang suka memberi dengan rela hati akan memiliki kelimpahan, sukacita dan damai sejahtera yang tidak dimiliki orang lain. Tuhan akan menerima pemberian seperti ini dan kepadanya Tuhan akan kembalikan berlipat-lipat sehingga dia berkelimpahan (Mat.25:29). Memberi dengan kerelaan hati dari apa yang kita miliki akan membuat pemberian kita berkenaan kepada Tuhan sehingga kita menjadi berkelimpahan. Terpujilah nama TUhan. Amin (06032013)